Minggu, 11 September 2011

[FanFic] Requited Love

Main Cast: ____ (you), naeui Lee Jinki
Genre      : Romance, Fantasy, GJ

happy reading ^^


Dia berdiri membelakangiku. Cahaya matahari yang menerobos lewat langit-langit kaca memberi pendaran keemasan yang indah di rambut coklatnya. Bahu kokohnya yang terbungkus jas hitam tampak begitu sempurna di siang yang indah ini. Seandainya tidak ada orang disini, aku pasti sudah berlari ke arahnya, memeluknya dan takkan melepasnya sampai kapan pun.

Wedding march mengalun dengan megah, menggema di dinding batu gereja. Semua orang menoleh, termasuk dirinya. Senyum bahagia dan lega jelas terpancar di wajah tampannya. Mata sipitnya lekat memperhatikan yeoja yang kini berjalan anggun ke arahnya.

Untaian mutiara di gaun yeoja itu berkilauan tertimpa sinar matahari, memberikan pelangi-pelangi indah di dinding. Cadarnya yang panjang bergoyang lembut seiring langkahnya. High heels putihnya terlihat tiap kali ia mengayunkan kaki. Tangannya yang terbalut sarung tangan jaring putih terulur, meraih sambutan tangan namja itu. Ah, lihatlah ekspresi kebahagiaan di wajah namjaku. Aku lupa ia bisa tersenyum secerah mentari dan  seindah bunga mawar.

“Jangan gugup...” bisik namjaku lembut, yang ditanggapi anggukan pelan namun yakin dari yeoja itu. Mereka menghadap pendeta bersama-sama, membelakangiku.

Semua ingatan tentang dirinya mengalir di benakku seiring kata-kata yang meluncur dari bibir pendeta. Bagaimana ia merengkuh wajahku, suara indahnya yang berbisik di telingaku, caranya memandangku, senyumnya yang khusus diberikan padaku seorang. Rasanya semua itu telah terjadi bertahun-tahun lalu jika melihat ekspresi tenangnya kini meski aku berdiri kurang dari lima meter darinya. Oh, aku hampir lupa. Tentu saja bagaimana sorot matanya saat ia mengucapkan selamat tinggal dan bisikan ‘saranghae’ di telingaku untuk terakhir kalinya. Bagaimana kehangatannya perlahan pudar dari tanganku, bagaimana punggung yang selalu kusukai itu menghilang dari pandanganku.
“...kau bersedia?”

Namjaku menarik napas panjang, kembali melirik calon istrinya. Ia seakan menunggu seseorang menyelamatkannya dari ucapan “aku bersedia,” yang ditunggu oleh semua orang.

“Aku...”

“Andwae!!” namjaku mendongak mendengar pekikan melengkingku. Selama sepersekian detik kupikir ia akan berlari dan kembali padaku, namun kenyataannya ia hanya memandangku sendu dan kembali meluruskan pandangannya.

“Aku bersedia.”

Desahan lega tak dapat disembunyikan dari keluarga namjaku saat mendengar suaranya yang begitu tegas dan yakin. Aku tahu mereka juga was-was apakah ia akan meninggalkan upacara sakral ini begitu saja. Mereka dulu begitu mendukung hubungan kami, tapi sekarang dengan mudah berusaha menjauhkanku darinya.

Aku menutup kedua telinga rapat-rapat saat giliran yeoja itu berbicara. Hatiku sudah cukup robek hanya dengan mendengar suaranya, tak perlu mendengar suara yeoja yang kini resmi menjadi istrinya.

“Now you can kiss the bride.”

Namjaku kembali mengatur napasnya. Dengan lembut ia menggenggam tangan istrinya. Bibirnya membentuk segaris senyum tipis, kemudian dengan gerakan lambat mencondongkan badannya hingga bibir mereka bertemu. Hanya dua detik, tapi cukup untuk membuat semua undangan bertepuk tangan. Hanya dua detik, namun cukup untuk membuat seluruh dunia serasa berputar, melumatku menjadi tidak berbentuk, menghancurkan seluruh mimpi dan harapanku.

Aku tidak bergerak dari tempatku saat semua orang berjalan keluar untuk melakukan pesta. Aku hanya menunduk, memandangi high heels hitamku yang berkilat. Entah hanya perasaanku atau apa, gereja terasa begitu gelap sekarang. Mungkin seseorang menutup pintunya atau aku sudah berdiri selama lebih dari tiga jam disini, aku tidak tahu.

“____-ah,” aku tersentak dan mendongak, memandang namjaku yang berdiri di depan pintu. Ia tidak berjalan ke arahku, hanya berdiri disana.

“Oppa...” 

“Mianhae, jeongmal mianhae. Kau tahu aku tidak ingin melakukan semua ini,” kurasakan air mata mulai membasahi pipiku. Aku mengangguk. Kau tidak berubah sedikit pun, Oppa.

“Kau tahu aku menyayangimu lebih dari apapun di dunia ini, kan? Kau ingat janjiku untuk tetap bersamamu selamanya, kan?” lagi-lagi aku mengangguk. Tapi tentu saja itu mustahil sekarang, kau sudah menikah dan aku...

“Tidak mustahil, aku akan membuatnya menjadi mungkin,” ujarnya seakan mendengar pikiranku. Aku hanya memandanginya berjalan menuju altar.

“Apa yang akan kau lakukan, Oppa?” tanyaku lirih saat melihatnya berhenti. Ia mendesah, kemudian mengeluarkan sesuatu yang berkilat dari balik jasnya.

“Aku hanya ingin bersamamu selamanya, ____-ah,” bisiknya lirih, “Aku menyesali semua perbuatanku padamu.”

“Gwaenchana, Oppa, aku tidak marah padamu,” aku berjalan dan berhenti di depannya, “justru kaulah yang menyelamatkanku dari rasa sakit yang akan kurasakan jika melihatmu terus bersamanya.”

“Mianhae, ____-ah, mianhae aku telah menghancurkan mimpimu,” isaknya, menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Mataku membulat menyadari apa yang berada di genggamannya.

“Oppa, andwaeyo! Aku mencintaimu, tapi aku ingin melihatmu bahagia. Kumohon jangan siksa dirimu, Oppa!” seruku panik sambil mengguncang bahunya. Ia mengabaikanku, masih menangis.

“Ini satu-satunya yang dapat kulakukan agar dapat melihatmu. Tuhan, maafkan apa yang akan kulakukan...”

“Oppa, jebal andwaeyo!” terlambat. Ia telah memotong nadi lehernya sendiri dengan pisau lipat yang dipegangnya. Aku hanya mampu memandangnya dengan gemetar. Perlahan ia roboh. Darah dengan cepat menyebar ke lantai marmer yang dilapisi karpet merah, semerah darahnya.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” aku berjongkok di sampingnya yang sudah tak bernyawa. Matanya yang terbuka menatap sesuatu yang tak kasat mata di langit-langit. Kulitnya yang putih tampak semakin putih seiring dengan darahnya yang terus mengalir. Senyumnya masih tertinggal disana, begitu tenang dan damai.

“Oppa, eotteohke? Sekarang aku tak dapat melihatmu dimanapun lagi...”

“____-ah...” aku menoleh, terkesiap melihatnya berdiri di belakangku. Ia mengangkatku berdiri dengan lembut dan memutar tubuhku hingga berhadapan dengannya.

"Oppa..."

"Terima kasih untuk tetap mengawasiku selama ini. Tak ada yang bisa memisahkan kita sekarang."

Air mata kembali mengalir di pipiku, "Oppa..."

"Saranghae, ____-ah," bisiknya di telingaku.

"Nado saranghae."

End


aku buat ff ini tengah malem gara2 nggak bisa tidur karena galau nggak bisa nonton SWC. Oh, damn, very alay reason -___-

3 komentar:

  1. hee sumpah ceritane iki kok tragis se-tragis ceritamu yang ga bisa tidur --a

    BalasHapus
  2. maksudmu tragis itu aku atau ceritanya? Iya, aku emang tragis nggak bisa nonton SWC TT *curcol
    kamu ngerti maksudnya cerita ini a? Daebak! --b

    BalasHapus
  3. dea dua.nya --
    kamu sabaro ya
    aku juga sabaro
    kita sabaroo :3
    ngerti laaah, istri kyuhyun gituloccchhhh -3-

    BalasHapus